Senin, 09 Januari 2012
Ini bukan judul film esek-esek ala sutradara porno itu. Ini judul teater yang dimainkan oleh grup teater yang udah berusia 82 tahun, kelompok "Miss Tjitjih". Awalnya gue kurang tertarik nonton itu karena, well, pertama gue ga tau siapa dan apa itu Miss Tjitjih, kedua dari judulnya gue udah males banget. Tapi akhirnya, untuk mengisi waktu luang gue, gue dan temen-temen pergi ke TIM. Yap, ini juga jadi salah satu alasan gue pergi. Di pikiran gue, kalo kelompok teater udah masuk TIM ya berarti udah hebat.
![]() |
| Miss Tjitjih adalah kelompok teater asal sunda yang spesialis memainkan kisah horor |
Nah langsung aja ya jalan cerita. Seorang lelaki yang telah menikah dan punya anak mengawini seorang perempuan lain, seorang janda yang telah beranak perempuan. Kedua anak itu perempuan, anak dari istri pertama bernama Rukiah, sementara dari istri muda bernama Rohanah. Istri yang muda, karena ingin lebih disayangi oleh sang suami, pergi ke dukun.
![]() |
| istri muda pergi kedukun |
Guna-guna sang dukun berhasil, sehingga istri tua meninggal. Setelah meninggal, Rukiah terus disiksa oleh ibu tirinya. Karena tidak ada siapapun tempat mengadu, akhirnya Rukiah menemukan teman kecil bernama Anwar. Singkat cerita, keduanya saling jatuh cinta. Akhirnya tiba saatnya Anwar melamar Rukiah.
Anwar akhirnya menikahi Rukiah. Mereka hidup bahagia dan tak lama kemudian Rukiah hamil. Kebahagiaan mereka tidak berumur panjang karena Anwar harus dinas ke luar kota. Ketika Anwar pergi, Rohana dan ibunya datang ke rumah Rukiah dan menuntut agar Rukiah bercerai dari Anwar. Mereka mengancam akan mencelakai Rukiah dan bayi yang dalam kandungannya.
Karena Rukiah bingung dengan ancaman terebut, ditengah hujan lebat Rukiah meninggalkan rumah sampai akhirnya berteduh di sebuah pohon waru, dan menangis disana.
Pohon waru itu sudah terkenal ada penunggunya, kuntilanak yang suka mengganggu orang-orang yang lewat didekatnya. Dalam tekanan batin yang luar biasa, akhirnya Rukiah melahirkan dibawah pohon itu. Dan karena putus asa dan takut akan ancaman ibu dan saudara tirinya, Rukiah mati di pohon itu. Pagi harinya, mayat Rukiah ditemukan oleh seorang kakek yang biasa mengambil daun di pohon tersebut. Setelah itu, mereka mengurus mayat Rukiah untuk dibawa pulang ke rumahnya. Tentu saja, Anwar belum pulang. Saat akan dimakamkan, Anwar kebetulan baru pulang dari luar kota dan histeris melihat istrinya sudah terbujur kaku.
Ibu tiri nya membuat alasan macam-macam atas kematian Rukiah sampai Anwar percaya.
Selanjutnya, anak Rukiah dirawat oleh Rohana dan suaminya Dahlan. Dahlan merasa bahwa Rohana sebetulnya mencintai Anwar. Mereka bertengkar dan Dahlan pun pergi dari rumah. Datang ibu Rohana yang sudah agak sakit-sakitan. Rohana membuatkan teh untuk ibunya di dapur. Saat menunggu anaknya membuat teh, arwah Rukiyah datang menghantui ibu tirinya yang sedang berada sendirian di ruang tamu. Sang ibu tiri shock dan akhirnya meninggal.
Penduduk semakin lama merasa terganggu karena kehadiran dua kuntilanak yang menghuni pohon waru itu. Pada suatu malam dengan hujan lebat, Dukun yang sombong (yang guna-guna ibu Rukiyah) berusaha membunuh kuntilanak dengan cara memaku pohon waru. Tetapi akhirnya justru Dukun tersebut yang mati dibunuh oleh dua kuntilanak itu.
Menurut gue drama ini dari segi cerita cukup menarik, walaupun sepertinya ada beberapa perubahan dan bagian yang dipotong karena keterbasan waktu. Dari segi efek, untuk ukuran teater, bagus. Juga ada alunan musik sunda sebagai pengisi waktu saat setting scene yang berikutnya akan ditampilkan.
Kekurangan utama nya adalah terletak di bahasa nya. Ya. Bahasanya itu loh. Semua adegan pake bahasa sunda. Iya, gue ngerti mereke ingin menunjukkan identitas kalo mereka adalah kelompok teater sunda, yang dari dulu memang kalo pentas pake bahasa sunda. Tapi ini Jakarta bung sudah modern. Kalaupun memang mau pake bahasa sunda ya sebaiknya di mix dengan bahasa indonesia. Jujur aja, kalo gue ga baca bukunya, gue ga ngerti gimana jalan cerita.
After all, drama ini bagus. three and half star out of five. Mari lestarikan budaya bangsa. Jangan nonton 21 dan XXI mulu. hehehehe. Semoga Miss Tjitjih dapat berkibar kembali di Indonesia.
![]() |
| Anwar melamar Rukiah. Rohana tidak senang. |
![]() |
| Rukiah disiksa oleh Rohana dan ibu tirinya |
Pohon waru itu sudah terkenal ada penunggunya, kuntilanak yang suka mengganggu orang-orang yang lewat didekatnya. Dalam tekanan batin yang luar biasa, akhirnya Rukiah melahirkan dibawah pohon itu. Dan karena putus asa dan takut akan ancaman ibu dan saudara tirinya, Rukiah mati di pohon itu. Pagi harinya, mayat Rukiah ditemukan oleh seorang kakek yang biasa mengambil daun di pohon tersebut. Setelah itu, mereka mengurus mayat Rukiah untuk dibawa pulang ke rumahnya. Tentu saja, Anwar belum pulang. Saat akan dimakamkan, Anwar kebetulan baru pulang dari luar kota dan histeris melihat istrinya sudah terbujur kaku.
Ibu tiri nya membuat alasan macam-macam atas kematian Rukiah sampai Anwar percaya.
Selanjutnya, anak Rukiah dirawat oleh Rohana dan suaminya Dahlan. Dahlan merasa bahwa Rohana sebetulnya mencintai Anwar. Mereka bertengkar dan Dahlan pun pergi dari rumah. Datang ibu Rohana yang sudah agak sakit-sakitan. Rohana membuatkan teh untuk ibunya di dapur. Saat menunggu anaknya membuat teh, arwah Rukiyah datang menghantui ibu tirinya yang sedang berada sendirian di ruang tamu. Sang ibu tiri shock dan akhirnya meninggal.
Penduduk semakin lama merasa terganggu karena kehadiran dua kuntilanak yang menghuni pohon waru itu. Pada suatu malam dengan hujan lebat, Dukun yang sombong (yang guna-guna ibu Rukiyah) berusaha membunuh kuntilanak dengan cara memaku pohon waru. Tetapi akhirnya justru Dukun tersebut yang mati dibunuh oleh dua kuntilanak itu.
Menurut gue drama ini dari segi cerita cukup menarik, walaupun sepertinya ada beberapa perubahan dan bagian yang dipotong karena keterbasan waktu. Dari segi efek, untuk ukuran teater, bagus. Juga ada alunan musik sunda sebagai pengisi waktu saat setting scene yang berikutnya akan ditampilkan.
Kekurangan utama nya adalah terletak di bahasa nya. Ya. Bahasanya itu loh. Semua adegan pake bahasa sunda. Iya, gue ngerti mereke ingin menunjukkan identitas kalo mereka adalah kelompok teater sunda, yang dari dulu memang kalo pentas pake bahasa sunda. Tapi ini Jakarta bung sudah modern. Kalaupun memang mau pake bahasa sunda ya sebaiknya di mix dengan bahasa indonesia. Jujur aja, kalo gue ga baca bukunya, gue ga ngerti gimana jalan cerita.
After all, drama ini bagus. three and half star out of five. Mari lestarikan budaya bangsa. Jangan nonton 21 dan XXI mulu. hehehehe. Semoga Miss Tjitjih dapat berkibar kembali di Indonesia.
Langganan:
Posting Komentar (Atom)






0 komentar:
Posting Komentar